Bawaslu Denpasar Dorong Pemilih Pemula Tak Hanya Mencoblos, tapi Ikut Awasi Pemilu
|
Denpasar - Pemilih pemula memiliki peran penting dalam menentukan masa depan demokrasi. Tidak hanya datang ke tempat pemungutan suara (TPS) dan memberikan hak suara, generasi muda juga didorong untuk ikut mengawasi jalannya Pemilu, Senin (14/9/2026).
Pesan tersebut disampaikan Anggota Bawaslu Kota Denpasar Ni Wayan Eka Lestari saat memberikan edukasi kepemiluan kepada pemilih pemula di Universitas Mahasaraswati Denpasar. Ia mengajak generasi muda untuk tidak bersikap apatis terhadap politik dan mulai memahami bahwa satu suara memiliki arti penting dalam proses demokrasi.
Menurut Eka, pemilih pemula merupakan warga negara yang baru pertama kali menggunakan hak pilihnya dalam Pemilu maupun Pemilihan. Kondisi tersebut membuat edukasi menjadi penting agar mereka tidak hanya memahami cara menggunakan hak suara, tetapi juga mampu menjadi pemilih yang kritis dan bertanggung jawab.
“Pemilih pemula jangan hanya berpikir bahwa tugasnya selesai setelah mencoblos di TPS. Justru dari sana kita ingin pemilih pemula ikut mengawal proses demokrasi,” kata Eka.
Eka menilai, generasi muda memiliki keunggulan karena sangat dekat dengan teknologi dan media sosial. Namun, kemudahan memperoleh informasi tersebut juga memiliki tantangan, terutama ketika informasi yang beredar belum tentu benar.
Karena itu, pemilih pemula diminta lebih kritis terhadap informasi politik yang muncul di media sosial. Hoaks, ujaran kebencian, propaganda maupun kampanye hitam dinilai dapat memengaruhi pilihan masyarakat dan mengganggu kualitas demokrasi.
“Gen Z adalah generasi digital, jangan langsung percaya dan menyebarkan informasi yang kita terima. Cek dulu kebenarannya. Jadilah pemilih yang kritis dan gunakan media sosial untuk menyebarkan informasi yang positif tentang Pemilu,” ujarnya.
Selain menangkal hoaks, pemilih pemula juga didorong menjadi agen perubahan dengan mengedukasi lingkungan sekitarnya mengenai pentingnya Pemilu yang bersih dan jujur. Mereka juga dapat mengambil peran sebagai duta anti-politik uang, relawan pengawas Pemilu maupun pelapor apabila menemukan dugaan pelanggaran.
Dalam menentukan pilihan, Eka mengingatkan agar pemilih pemula tidak terjebak pada politik uang maupun fanatisme terhadap calon tertentu. Ia mendorong generasi muda untuk mengenali rekam jejak calon serta memperhatikan ide, gagasan, visi dan misi sebelum menentukan pilihan.
“Jangan memilih hanya karena ikut-ikutan atau karena janji. Cari tahu rekam jejaknya, lihat ide dan gagasannya, pahami visi dan misinya. Suara kita harus digunakan secara bertanggung jawab,” tegas Eka.
Menurutnya, perbedaan pilihan politik merupakan bagian dari demokrasi yang harus dihormati. Karena itu, pemilih pemula juga perlu belajar dewasa dalam berpolitik dengan tetap menghargai pilihan orang lain.
Ia menegaskan, pengawasan partisipatif merupakan bentuk keterlibatan aktif masyarakat dalam mengawasi proses Pemilu maupun Pemilihan agar berlangsung jujur, adil, transparan dan bebas dari pelanggaran. Bentuknya pun dapat dilakukan dari lingkungan terdekat. Sebagai pelajar dan pemilih pemula, mereka dapat membangun forum diskusi serta menyebarkan edukasi mengenai Pemilu yang bersih.
“Bawaslu tidak bisa bekerja sendiri. Kami membutuhkan partisipasi masyarakat untuk bersama-sama mengawasi Pemilu. Pemilih pemula bisa memulainya dari lingkungan sekolah, keluarga maupun media sosial,” jelas Eka.
Bawaslu Kota Denpasar menilai, keterlibatan pemilih pemula sejak dini menjadi salah satu langkah penting untuk membangun generasi yang sadar demokrasi. Dengan pengetahuan dan keberanian untuk berpartisipasi, pemilih pemula diharapkan mampu menjadi agen perubahan sekaligus bagian dari pengawasan Pemilu yang berintegritas.
Penulis dan Foto : Suci Apriliani
Editor : Humas Bawaslu Kota Denpasar